Pelajar Islam - Islam berbicara secara serius dalam sesuatu hal yang melibatkan waktu karena ia merupakan anugerah Allah SWT. sangat bernilai, terbatas dalam rangka umur dunia, peluang yang diberikan hanya sekali, dan seringkali waktu dikaitkan dengan ajal. Hal ini karena banyak kalangan manusia yang mensia-siakan anugerah ini, tidak menghargainya, tidak menjaga waktu dengan baik dan membiarkannya terbuang dengan amalan yang tidak diridhoi Allah SWT.
نعمتان مغبون فيهما كثير من النلس : الصحة والفراغ
“Ada dua ni’mat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya: iaitu nikmat sehat dan waktu kosong.” (HR. Bukhori)
Waktu itu terbatas dan setiap perbuatan akan dihitung Allah SWT.
“Sebenarnya Kami selalu mendengar, dan utusan-utusan Kami pun senantiasa mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80)
Dan sesungguhnya, “Tiap-tiap umat itu ada ajalnya sendiri-sendiri” (QS. Al-A’raf: 34)
Dan jangan tunggu untuk menyesal di hari pengadilan setelah diberikan ruang dan peluang yang banyak untuk memanfaatkan waktu semasa di dunia. Begitulah khabar tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat nanti: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ya Allah ya Rabbku: kembalikanlah aku ke dunia“. (QS. al-Mu’minun: 99)
Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan alasan kenapa mereka ingin kembali ke dunia: “agar aku bisa beramal Shaleh untuk memperbaiki apa yang telah aku tinggalkan.” (QS. al-Mu’minun: 100)
Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan tentang hubungan kehidupan dan waktu, “Waktu adalah hidup itu sendiri maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Setiap orang akan mempertanggungjawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menunda waktu atau mengulur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan. Namun, kemudian ia mengkambinghitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.
Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa Al Asy’ari, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, ”Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh kerana itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, kerana pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.””
Ustaz Hassan al-Banna berpesan,
“Islam menjelaskan kepada kalian bahwa waktu kalian sangatlah terbatas. Ia merupakan anugerah daripada Allah SWT. yang diberikan kepada kalian. Maka kalian wajib untuk membekali diri dengan mengisi waktu, karena dalam kehidupan ini, sesuatu yang paling mahal nilainya adalah waktu. Jika waktu telah berakhir, ia takkan dapat diganti. Bila sudah lepas, ia takkan kembali. Kerana itu, Abu Bakar ra. pernah berdoa,
“Ya Allah, janganlah Engkau siksa kami secara tiba-tiba”
Ustaz Hassan al-Banna seterusnya menjelaskan bahwa Allah SWT. memerintahkan kita untuk menggunakan waktu dalam empat (4) hal,
- Hal yang dapat menyelamatkan agama kita yakni berupa keta’tan kepada Allah SWT baik yang fardhu mahupun sunat
- Hal yang memberikan manfaat kita seperti mencari rezki yang halal
- Hal yang mendatangkan manfaat kepada orang lain
- Hal yang dapat memberi kita ganti atas sesuatu yang hilang dari kita, iaitu waktu istirehat karena sesungguhnya badan mempunyai hak yang harus kita tunaikan.












































