Allah Tujuan Kita

Allah Tujuan Kita 2

Pelajar Islam - Allahu Ghaayatuna ==> Allah Tujuan Kita

Mungkin di dalam pikiran kita masih risih. Kenapa Allah yang kita tuju, kenapa bukan yang lain. Sebelum kita berbicara yang lain maka kita perlu mengenal Allah lebih jauh lagi, ibarat ungkapan Melayu ‘tiada kenal tiada sayang’. Jawaban yang sama juga berlaku apabila kita masih saja malas beribadah. sholat berjama’ah di masjid, puasa, membayar zakat dll. Buat apa kita mesti susah-susah berbuat demikian?

Dalam lubuk hati kita yang paling dalam, kita mengakui bahwa
Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan kita,
Allah-lah yang menciptakan dan mengatur alam semesta beserta isinya,
Allah-lah yang memuliakan dan menghinakan,
Allah-lah yang memberi manfaat dan bahaya,
Allah-lah yang membagi-bagikan rezqi dan menahannya,
Di tangan-Nya-lah segala urusan dan aturan,
Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah mengingatkan kita akan peran-Nya sebagai Rabb seluruh alam. Namun, tidak lah cukup kita mengenal Allah sebagai Rabb begitu saja. Tetapi, pengenalan kita terhadap Rabb Allah hendaklah dilanjutkan dengan penerimaan Dia sebagai “ilah” kita, sebagai Hak Allah atas kita. Hendaklah kita patuh dan taat secara utuh terhadap perintah dan larangan Allah.

Kepatuhan dan ketaatan kita kepada Allah Ta’ala merupakan tuntutan iman dan pengabdian kepada Allah karena status Dia sebagai Rabb kita dan alam semesta.
- Bukankah ALLAH yang menciptakan kita ? Maka Dia-lah jua yang berhak untuk bertindak terhadap makhluk-Nya menurut kehendak-Nya.
- Bukankah Allah Maha Mengetahui dan lebih mengetahui sistem-sistem dan perundang-undangan serta hukum-hukum yang baik bagi hamba-hamba-Nya?
- Bukankah Allah yang Maha Bijaksana dalam meletakkan segala sesuatu pada posisinya yang tepat dalam bentuk yang dapat mendatangkan manfaat dan mencegah kerusakan?

Saudaraku sekalian, Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 49 :

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling dari hukum yang telah Allah turunkan maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah 49)

Keberadaan Allah SWT sebagai Rabb kita dan Ilah kita, menghendaki kita untuk patuh dan taat secara utuh terhadap perintah dan larangan Allah. Hal ini merupakan sesuatu yang patut kita pahami.

Maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk mengutamakan alasan kita sendiri, kecuali menerima dan mentaati segala ketetapan-Nya dengan penuh tawakkal dan sabar hati, ikhlas dan ridho menerima ketentutan-Nya dalam hal-hal yang telah terjadi dan sabar terhadap segala cobaan dan musibah dalam mengemban hukum-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah patut bagi mu’min laki-laki dan tidak pula perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada lagi bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab : 36)

Bagi kita cukuplah melihat kepada Khalifah Umar bin Khattab r.a. yang mentaati dan menerima sikap Rasulullah dalam mencium hajar aswad (batu hitam di pojok Ka’bah) walaupun ia sendiri tidak mengetahui hikmah menciumnya. Dia hanya berkata kepada batu itu:

“Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah seonggok batu yang tidak dapat memberi manfaat dan menolaknya. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah SAW menciummu niscaya aku tidak suka menciummu.” (HR. Bukhari & Muslim).

Allah Tujuan Kita

Allah Tujuan Kita 3

Salman



Berita Terkaitclose