Kewajiban Menuntut Ilmu
Pelajar Islam - Belajar tentang ilmu agama adalah fardhu ‘ain, termasuk daripadanya adalah menghadiri program-program tarbiyah itu sendiri. Belajar ilmu sains juga termasuk dalam perkara fardhu ‘ain jika didapati keperluan dan penguasaan kaum Muslimin masih rendah di bidang tersebut. Begitu juga halnya dalam mencari sesuap nasi dan dana untuk program-program dakwah, ia memerlukan ilmu.
Anas bin Malik ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW., bersabda,
طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)
Allah SWT. akan mempertanggungjawabkan setiap potensi yang diberikan kepada kita di hari akhirat nanti dan dalam ini, potensi kita untuk belajar. Setiap kemahiran yang diberikan wajib diasah dan dikembangkan agar ianya dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
Ini bermaksud menjadi kewajiban kepada kita untuk berusaha mempersiapkan segala tuntutan Islam dan Dakwah melalui penguasaan ilmu.
Imam Muslim dalam Shahihnya membawa sebuah atsar dari Yahya bin Abi Katsir,
لاَ يُسْتَطَاعُ العِلْمِ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ
“Tidaklah diperolehi ilmu dengan jasad yang santai.”
Ya, belajar untuk sukses wajib mengikut sunnatullah yang ada yakni berusaha sebaik mungkin. Dan pertolongan Allah SWT. akan datang terhadap orang-orang yang berusaha dan bertawakkal kepada-Nya. Ilmu itu tidak datang dengan sendirinya tanpa adanya perjuangan untuk mendapatkannya.
Firman Allah SWT.,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama kami, Sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan); dan Sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya. (QS. al-Ankabut: 69)
Kewajiban Mempelajari Ilmu Agama
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar, tidak pula mewariskan dirham. Akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkannya maka dia telah mendapatkan bagian yang sangat mencukupi.” (HR. Abu Dawud)
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan terhadapnya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia terhadap agamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Jika para murabbi hanya menyarankan kepada anda untuk menyediakan beberapa menit sehari untuk belajar, menghadiri halaqah mingguan dan dauroh bulanan sekali untuk mendengar bahan-bahan kajian, Abu Ayyub Al-Anshari seorang sahabat Nabi SAW. sanggup melakukan perjalanan dari kota Madinah menuju Mesir untuk mendapatkan satu hadits yang belum dimilikinya daripada sahabat yang lain.
Begitu pula Nabiyullah Musa ‘alahissalam. Iaitu ketika beliau harus menempuh perjalanan yang jauh untuk menemui Nabiyullah Khidhir ‘alahissalam yang diberitakan oleh Allah SWT. bahwa beliau memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa ‘alahissalam. Allah SWT. berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (Al-Kahfi: 60)
Allah SWT. kemudian menyebutkan ucapan Nabi Musa ‘alahissalam ketika telah bertemu dengannya di dalam firman-Nya:
Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi: 66)
Belajar Untuk Ummat
Ketika ditanya kepada Dr. Yusuf Qardhawi apakah rahasia beliau menguasai ilmu dan mengeluarkan pendapat-pendapat yang hebat, beliau menjawab bahwa selama ini dia tidak memperlajari sesuatu untuk mengambil manfaat terhadap dirinya sendiri, tetapi untuk ummat.
Benar sekali karena untuk memberikan sesuatu sumbangan yang manfaatnya besar dan bernilai, kita perlu menyiapkan segala persiapan yang baik sedangkan jika hanya sekadar untuk diri kita sendiri, cukuplah kita belajar sekadar hafalan di otak !
Kaedah ini ternyata bukan saja digunakan oleh Dr. Yusuf Qardhawi, namun rahasia kejayaan semua penyumbang yang hebat seantero dunia.
Ketika Bill Gates serius dalam mempromosikan Microsoft, beliau benar-benar berimpian agar manfaat daripada ciptaannya menembusi setiap rumah.
“A Computer in every house“
Qudwah Belajar Ustaz Hasan al-Banna ketika di Sekolah Rendah (Madrasah ar-Rasyad)
Madrasah ar-Rasyad adalah sekolah yang pertama dimasuki Ustaz Hasan al-Banna sekitar umurnya 8 tahun dan menjalaninya selama 4 tahun.
Beliau memetik pelajaran penting dari Ustaz Muhammad Zahran,
“Barangkali dari beliaulah, rahimahullah – seiring dengan eratnya hubungan emosional di antara kami – saya dapat memetik manfaat akan kegemaran menelaah dan membaca, karena beliau sering meminta saya untuk menemanimya ke perpustakaan pribadinya yang berisi banyak karya tulis yang bermanfaat, untuk membacakan sejumlah kitab yang beliau perlukan. Selain itu, beliau juga sering didampingi sejumlah ulama lainnya untuk bersama-sama mengkaji, menelaah, dan berdikusi, sementara saya menyemak.”
Qudwah Belajar Ustaz Hasan al-Banna ketika di Sekolah Menengah
“Belum selang seminggu si anak pun (Hasan al-Banna) sudah menjadi siswa Madrasah I’dadiyah. Dengan demikian, dia harus membagi waktunya untuk pelajaran sekolah pada waktu siang dan aktiviti lainnya setelah pulang dari sekolah hingga tiba waktu Solat Isya’. Setelah itu, dia pun harus mengulang kembali pelajaran sekolah hingga waktu tidur. Ia mengambil waktu untuk menghafal Al-Quran setelah solat Subuh sampai menjelang pergi ke madrasah.”
Ustaz Hasan al-Banna memiliki perpustakaan peribadi yang terisi dengan beraneka kitab dan majalah lama. Ketika para Ikhwan memasuki perpustakaannya dan membelek-belek buku-buku milik beliau, mereka mendapati kebanyakan buku terdapat tanda catatan menggunakan pensil pada kebanyakan helaian.












































