Ruqyah Dengan Al Quran
Berkata Ustaz Hasan Al-Banna:
“Jimat, jampi, wada’ (sejenis keong yang dikalungkan di leher anak sebagai jimat), ramal (meramal nasib dengan membuat garis di pasir), perdukunan, mengaku tahu akan hal hal gaib, dan semisalnya adalah kemungkaran yang wajib diberantas. Kecuali jimat yang berasal dari ayat ayat Al quran atau jampi yang diriwayatkan dari Rasulullah saw” (Usul 4, Usul Isyrin)
Jampi, mantera atau istilah arabnya ruqyah adalah kalimat-kalimat tertentu yang diucapkan yang menjadi kebiasaan orang jahiliyah untuk menolak bala, menyembuhkan penyakit dan sebagainya dengan kaidah meminta pertolongan kepada jin, atau dengan menyebut nama-nama asing dan kata-kata yang tidak difahami.
Hal ini diharamkan Islam sebagaimana sabda Nabi SAW;
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, tangkal-tangkal dan sihir tiwalah adalah syirik”. (HR Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Mas’ud ra.)
“Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah (sesuatu yang dibuat dengan anggapan menjadikan suami/istri mencintai pasangannya, sering disebut guna-guna) adalah syirik” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah)
Ruqyah yang dimaksudkan oleh hadis di atas adalah ruqyah yang berisi permohonan pertolongan kepada selain daripada Allah SWT. Ini adalah perbuatan yang dilarang dan Rasulullah SAW Mengatakan bahwa itu adalah perbuatan syirik kepada Allah SWT.
Ruqyah yang haram
Para ulama berpendapat pada dasarnya ruqyah secara umum dilarang, kecuali ruqyah syariah.
Mantera/jampi yang haram adalah yang di dalamnya terdapat permohonan bantuan kepada selain Allah, atau dengan selain Bahasa Arab. Mantera yang demikian boleh menjatuhkan pelakunya kepada kafir kerana ucapan yang mengandungi unsur-unsur kesyirikan kepada Allah SWT.
Di dalam masyarakat kita, terdapat orang pintar dan seumpamanya (Guru Silat dll) yang menggunakan jampi atau mentera yang menyeru khadam-khadam (jin) untuk meminta pertolongan bagi membantu merawat para orang sakit. Kebiasaannya jampi tersebut dimulai dengan bacaan Basmallah (بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ), salam, sebutan nama Nabi, nama-nama Khalifah dan disudahi dengan menyebut Lailahailll Allah Muhammadar Rasulullah atau sebutan syahadah. Unsur syirik (mensamaratakan Allah SWT dengan makhluk) terdapat di dalam seruan di tengah-tengah jampi tersebut yang berupa seruan kepada Jin yang diperintahkan untuk datang untuk meminta pertolongan terhadap sesuatu seperti mengganggu orang-orang tertentu, merasuk dan menguasai roh.
Perlu difahami bahwa sebutan kalimah-kalimah Islami tidak menjamin amalan yang dilakukan tersebut sesuai dengan amalan Islam bahkan ianya menjurus kepada kekeliruan kepada orang awam, penyimpangan aqidah dan penghinaan terhadap keagungan Allah SWT.
“Sesungguhnya hamba-hambaKu, tidaklah ada bagimu sebarang kuasa untuk menyesatkan mereka, kecuali sesiapa yang menurutmu dari orang-orang yang sesat (dengan pilihannya sendiri)”. (Al-Hijr : 42)
Ruqyah yang jaiz/boleh
Adapun ruqyah yang menggunakan Asma, sifat, ruqyah dengan Al Quran, dan pernah dicontohkan Rasulullah, maka hukumnya jaiz/boleh, bahkan dianjurkan. Seperti yang ditunjukkan oleh hadits Imam Muslim :
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ: كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ
Dari Auf bin Malik ra, berkata: “Saya pernah meruqyah di masa jahiliyyah, lalu saya bertanya kepada Rasulullah: “Bagaimana menurutmu Ya Rasulallah? Sabda Nabi : “Tunjukkan kepadaku jampi-jampi kalian, tidak apa-apa selama tidak mengandung syirik”.
قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ وَسَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ لَدَغَتْ رَجُلاً مِنَّا عَقْرَبٌ وَنَحْنُ جُلُوسٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْقِي قَالَ : مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
Abu Zubair berkata: Aku dengar Jabir bin Abdullah berkata, seorang lelaki daripada kami telah disengat kalajengking. Ketika itu kami duduk bersama Rasulullah SAW Maka berkata seorang lelaki :“Wahai Rasulullah SAW ! Bolehkah aku jampi ?” Baginda SAW bersabda : “Barangsiapa yang mampu di antara kamu untuk memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah dilakukan.” (HR Riwayat Muslim)
Imam Nawawi, Ibn Hajar, dan As Suyuti memperbolehkan ruqyah selain yang tersebut di atas dengan syarat :
- Menggunakan kalamullah, asma’ atau sifat-Nya
- Menggunakan Bahasa Arab atau diketahui maknanya
- Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak mempunyai pengaruh dengan sendirinya, akan tetapi karena taqdir Allah yang berkuasa.












































