Pelajar Islam - Sebelumnya kita sudah sempat bahas “Siapa Temanmu?”, membahas seputar teman dekat atau yang biasa kita sebut sahabat itu seperti apa dan bagaimana kita bisa mejadi teman yang baik. Kali ini mican mau ajak untuk kita lebih mendalami lagi mempelajari arti pertemanan, akan banyak pelajaran, which is kita belajar memahami diri kita dan teman kita sudah sejauh mana saling kenal.
Sekarang kita lebih menjurus pada tingkat atau tahap pertemanan, dalam islam ada lho tahap-tahapnya. Simak yo..
1. Ta’aruf (Saling Mengenal)
Kayaknya kalau kata ta’aruf sudah sering kita dengar ya? Malah ada yang menganggap ta’aruf itu ya proses perkenalan antara 2 insan yang ingin dinikahkan *eh, nggak cuma itu aja kaleee, ta’aruf itu ya saling mengenal siapapun, utamanya orang-orang yang ada di lingkungan kita, sesama perempuan dan sesama lelaki kalau berteman pasti ta’aruf, sob. Mungkin beberapa orang yang kita anggap sahabat pun pasti melalui proses ini, tapi ta’aruf itu bukan hanya sekedar kenal nama dan tau dimana rumahnya, bukan sekedar itu, bahkan lebih. Proses ta’aruf itu bukan hanya mengenal lapisan luar aja, tapi sampai tau gimana kondisi teman kita sekarang, kesukaan dia apa, dia senang kalau di kasih apa, dan banyak lagi deh untuk memenuhi proses ta’aruf. And now, banyak sepertinya yang berlabel “sahabat” tapi masih sebatas ta’aruf atau mengenal aja, belum sampai sedalam poin yang selanjutnya ini nih..
2. Tafahum (Saling Memahami)
Memahami seseorang bukan hal yang mudah, meski kita sudah anggap dia sebagai sahabat kita, karena memahami biasanya sudah harus pakai hati, awalnya mungkin memperkirakan tapi seterusnya tanpa menduga atau mengira pun kita sudah tau jika kita sudah memiliki kekuatan memahami seseorang. Manusia mana sih yang nggak mau dipahami, atau bahasa kerennya di ngertiin deh, karena pada dasarnya manusia butuh bantuan manusia yang lain waalaupun itu sebatas ngobrol. Kalau kita sudah tau kebutuhan teman kita dan siap untuk menolongnya dengan ikhlas, kita bisa dikategorikan lulus tahap Tafahum ini. Tapi tunggu dulu, tadi kita sedikit singgung tentang menolong kan? Langsung aja deh kita bahas di poin selanjutnya..
3. Ta’awun (Saling Menolong)
Kalau menolong orang yang jatuh dijalanan gegara kesandung sih udah biasa, tapi itu termasuk yang keren juga sih, wlau sederhana. Nah kalau sama teman apa aja yang musti ditolong? Sometimes kita suka anggap teman kita mampu untuk ngejalanin masalahnya sendiri, apapun itu. Padahal belum tentu dia sanggup sendiri. Saat-saat seperti inilah kita harus bisa bersikap Ta’awun, gerakan hati ini untuk menolong. Kaya lagunya Ali Sastra (feat. The Jenggot) yang Tuhan Tau Kita Mampu, cari sendiri ya lirik dan lagunya hehe.
4. Takaful (Saling Menanggung)
Teman-teman pernah nggak bayarin SPP seorang teman karena dia lagi kesusahan? Atau mungkin sebaliknya? Ya, kalau pernah itulah yang namanya tahap Takaful. Jangan sampai kita berteman cuma pas senang-senangnya aja, padahal saat susah itulah kita bisa dikategorikan sebagai teman kalau kita membantu dengan ikhlas karena Allah SWT. Takaful ini lebih mendekatkan kita dengan sahabat kita, dari sini tingkat pertemanan dan persaudaraan kita semakin menjadi-jadi *aih bahasanya, min -_-
5. Tasamuh (Saling Menghargai, Bertoleransi, Tenggang Rasa)
Di pelajaran pendidikan kewarganegaraan ada nih, apalagi kalau liat kata “tenggang rasa” hehe. Tasamuh ini menjadikan kita lebih bersikap menghargai, toleran dan tenggang rasa yang tinggi. Semisalnya ada teman kita yang senang sekali dengan salah satu buku keluaran Asma Nadia, tetapi karena dia lagi nggak ada doku jadi dia nggak bisa beli buku itu, sedangkan di rumah kita udah punya, kita pinjamkan buku itu dengan senang hati itulah yang disebut tasamuh. Dan banyak lagi contohnya, mungkin lebih mengena kalau kita alami sendiri.
Nah, sekarang sudah tau kan apa saja tahapan dalam berteman, kalau liat teori-teori diatas kayaknya gampang, simpel banget. Tapi, sob, jangan salah, belum tentu kita bisa menjalaninya dengan sederhana. Ini mainnya sudah pakai perasaan *tsahh.. Setelah mempelajari beberapa poin diatas semoga kita bisa lebih tau bagaimana kita mengendalikan diri kita, saling mengerti apa yang sedang dibutuhkan teman kita, dan jangan nunggu di balas jasa, itu sih sama saja nggak ikhlas, sob -_-
Apalagi kalau kita bisa mendahulukan keperluan teman kita ketimbang keperluan kita, nah yang kayak gini namanya Itsar, sudah tau apa artinya Itsar? Yaaa, kamu benar.. (dih.. emang ada yang jawab ya, min? -_-). Itsar adalah mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri. Contoh simpelnya; mican punya teman yang dia lagi butuh kamera DSLR untuk dokumentasi kegiatan teman mican di kantornya, kebetulan mican punya dan berhasil meminjamkannya, padahal di hari yang sama mican juga membutuhkan kamera itu untuk liput acara, tapi untungnya mican masih punya teman yang punya kamera DSLR juga, jadi mican tinggal pinjem ke teman mican deh. Intinya begini, sob, kalau kita tau teman kita sedang butuh sesuatu maka berikan itu lebih dahulu untuknya, walau sebetulnya kita butuh itu juga, tapi ternyata Allah mempersiapkan apa yang kita butuhkan di tempat lain, itu karena kita sudah membantu teman kita lebih dulu ketimbang kita sendiri.
Atau mican kasih satu contoh lagi terkait Itsar. Tau kisahnya para mujahid yang sedang kehausan di padang pasir? Kala itu ada salah satu dari mereka yang masih menyimpan sedikit persediaan air, mataharinya lagi terik banget semua berasa sudah nggak sanggup lagi, lantaran tinggal sedikit, mujahid pertama akhirnya mengikhlaskan teman yang ada di dekatnya untuk minum duluan, tapi saat teman dekatnya itu diberikan air malah di kasih ke teman yang lainnya hingga terus oper-operan seperti itu, sampai akhirnya mujahid yang pertama pun meninggal dunia dan dilanjut dengan mujahid ke dua dan seterusnya. Itulah tingkat Itsar yang paling keren dan sebetulnya masih banyak lagi sih kisah Itsar lainnya, mungkin kita juga sudah pernah mengalami itu, di saat itu Allah sedang tersenyum melihat hambaNya yang merelakan sesuatu yang dia punya untuk diberikan kepada temannya yang dirasa lebih membutuhkan, walaupun lagi sama-sama butuh. Hematnya Itsar seperti ini, kita lebih mendahulukan teman kita untuk memenuhi kebutuhannya dan kita yakin bahwa Allah akan menolong kita setelah kita berItsar. Tapi tetap dengan hati yang ikhlas.
Sebetulnya dalam islam itu nggak ada sahabat, tapi adanya saudara, itu karena dengan bersaudara kita akan lebih dari sebatas teman. Seperti yang Allah firmankan pada QS. Al Hujurat : 10
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Mulai sekarang, anggap sahabat kita sesama muslim/muslimah adalah saudara kita, dengan begitu kita bisa lebih tau apa-apa yang sedang dirasa oleh teman/sahabat kita itu. Jika kita belum sanggup memenuhi 5 poin di atas, coba terus, jangan menyerah, secara kita ini makhluk yang saling membutuhkan satu sama lainnya. So, sudah siap kah menganggap teman kita saudara kita sendiri?
Semangat! 











































